Damai di Negeriku

image00001 

Damai di Negeriku

 

Dunia memang sudah gila

Kenapa aku sebut gila

Sebab kamu mencuci otakmu dengan senjata

Kau tumpahkan darah di mana-mana

Sampai-sampai manusia kau anggap binatang melata

 

Dunia sudah tidak berakal

Kenapa aku sebut tidak berakal

Karena Yahudi mengangap Palestina tanahnya

Kau zinai bumi dengan air mani dosa

Sampai-sampai rerumputan kau anggap emas

 

Dunia ini penuh dengan air kencing

Toilet kau buat sigasana raja

Hingga harga manusia sama rendahnya

Kau hisap susunya sampai kering tak berbuih

Ah…memang dasar Israel

Palestina kau jadikan mainan

Ke sana ke mari hanya ketakutan

 

Kau anggap ini negerimu

Tapi…

Bolehkah aku…..damai di negerimu

Dasar tak tahu malu

 

Kau Anggap

 

Terima kasih atas teror dan ledakanmu

Kau beri aku darah dan tangisan

 

Aku junjung kedamaian

Kau anggap pembantaian

Aku junjung persahabatan

Kau anggap permusuhan

Aku junjung kejujuran

Kau anggap kemunafikan

 

Terserah kau bicara apa…!

Perang tetap menjadi idola

 

 

Doa Juangku

 

Wahai kau yang bersenjata

Yang mengangap Palestina tanahnya

Akan aku rangkaikan senjata yang penuh kalimat cinta

Tapi…apakah pantas jiwa kami dan engkau senantiasa berbeda

Kau hembuskan seruling kematian hingga darah tumpah ruah

Sedangkan aku hidup menunggu mati oleh ledakanmu

 

Wahai jiwa yang terurai penuh kekhusyukan

Janganlah sembunyikan ridho-Mu dari tangan-tangan kami

Yang senantiasa bermunajat diantara siang dan malam-Mu

 

Berilah karunia cinta-Mu pada setiap langkah kami

Berilah kami perisai ruh yang sesuai kalam suci-Mu

Yang selalu berjuang memakmurkan bumi-Mu

 

Bawalah kami menuju tangga ridho-Mu

Bawalah kami kembali teguh kepada keyakinan atas agama-Mu

Yang akan berperang tuk menjaga kehormatan tanah-Mu

 

Aku sengaja mengeja damai mencipta ruang yang hilang

Ajarilah aku yang menangis bagai lilin

Ya…Rabb! air mata mana yang tahan jika mati menjadi harapan

Ya…Rabb! mata mana yang tahan jika hidup tidak menjadi nyaman

Ya…Rabb! telinga mana yang tahan jika ada api yang membakar

Hidup pada reruntuhan dinding-dinding yang bebas dari segala ikatan

Pantang menyerah sebagai wujud-Mu, tetangga menjadi musuhku

 

04/01/2009 (23.27)

Demonologi Partai Islam

lukni 

Demonologi Partai Islam

Lukni Maulana*

Pemilu tahun 2009 sudah mendekati waktunya, era kebebasan sudah mulai berkembang di Indonesia semenjak orde baru runtuh. Tuntutan perbaikan sistem pemerintahan yang berlandaskan good governance dan clean governance sangat dinanti oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan jumlah partai peserta pemilu 2009 yang berjumlah 34 partai. Arus perubahan di Negara ini sangat cepat, proses demokrasi semakin mengakar ke seluruh masyarakat. Hadirnya multipartai tersebut sudah membuktikan bahwa Indonesia merupakan Negara yang menjunjung tinggi kebebasan dalam berapresiasi di kancah publik

Namun untuk memperbaiki sistem pemerintahan di Indonesia tidak semudah membalikan kedua tangan ada jalur khusus agar dapat mencapainya yaitu melewati jalur partai politik, maka tidak heran timbulnya multi partai. Kehadiran partai politik tidak terlepas dengan adanya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, dalam Pasal 1 di sebutkan bahwa “Partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga Negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita….” Dan Pasal 2 “Partai politik didirikan dan dibentuk oleh paling sedikit 50 (lima puluh) orang warga Negara Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun dengan akta notaris dan menyertakan 30% keterwakilan permpuan”.

Sekarang ini partai menjadi alat untuk menguasai dan bahkan untuk mengubah aturan-aturan yang berlaku di pemerintahan. Indonesia merupakan Negara yang menganut sistem demokrasi modern, di mana sistem demokrasi ini tidak dapat terlepas dari adanya partai. Jadi pemerintahan demokrasi oleh rakyat dan untuk rakyat hanya terwujud melalui partai politik sebagai wakil suara rakyat di pemerintahan.

Partai Islam, akankah…?

Partai secara bahasa di sebut Hizb yang berarti tanah yang kasar (al-ardh al-ghalizhab asy-syadidah), namun dalam bahasa al-Qur’an di gunakan juga untuk menunjukan sebuah kelompok yang mempunyai kekuatan dan kekentalan. Partai sebagai sebuah kelompok yang ghirahnya kuat mempunyai kecenderungan bangga dengan dirinya sendiri atau kelompoknya. Pendirian partai biasanya tidak dapat terlepaskan dari nilai-nilai dan tujuan partai itu sendiri.

Sedangkan demonologi ditinjau secara etimologi adalah “the study of demons or evil spirits” dan secara terminologi adalah suatu perekayasaan sistem untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang menakutkan. dalam ilmu komunikasi termasuk dalam teori-penjulukan (labelling theory), yang bisa direkayasa menjadi public opinion sedemikian hebat sehingga korban misinterpretasi menjadi hancur reputasinya dan tak mampu bertahan.

Dalam kaitannya dengan partai Islam, maka demonologi adalah sebuah perekayasaan sistem perpolitikan untuk menempatkan partai Islam dan kadernya agar dipandang sebagai ancaman. Seharusnya bagaimana menempatkan partai Islam dalam kancah demokrasi di Indonesia.

Namun hingga saat ini partai plitik yang berbendera Islam masih saja tercerai berai. Sejarah telah mengaris bawahi sesungguhnya bersatunya umat Islam sangat dibutuhkan, ini dibuktikan dengan lahirnya partai Masyumi yang menyatukan organisasi Islam di Indonesia terutama dua kekuatan besar yaitu Muhammadiyah dan NU. Namun sejarah telah membuktikan Masyumi tidak dapat bertahan lama bahkan menghilang dari percaturan politik di sebabkan terjadi perpecahan. Perpecahan ini bermula dari lahirnya Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1947 kemudian NU pada pada tahun 1952 dan berlanjut Muhammadiyah hingga organisasi-organisasi kecil sebut saja golongan salaf, al ikhwan, al irsyad, hizbut tharir.

Partai politik Islam semakin sulit untuk bersatu yang sarat dengan kepentingan politik. Pemerintahan menjadi ajang meraih kekuasaan bukan lagi mewujudkan visi Islam yang sesungguhnya, dalam urusan publik yang berkaitan dengan problematika keIslaman saja masih saja terjadi perbedaan pendapat.

Pada akhirnya Islam menjadi labelisasi pada sebuah partai dan Islam sudah tidak cocok menjadi alat politik namun tidak dapat menafikan adanya kampanye berbau agama. Pemilu tahu 2004 sudah membuktikan perolehan partai Islam tidak dapat mengunguli partai sekuler semacam Partai Golkar yang memperoleh suara 21,6 % dan PDI-P 18,5 %. Partai Islam semisal PKB hanya mendapatkan 10,6%, PPP 8,2%, PAN 6,4 % dan PKS 7,1%. Itu belum persoalan perpecahan di tubuh PKB yang menempatkan PKNU sebagai partai baru, notebenenya kader Nahdiyin sangat besar. Lain lagi dengan Muhammadiyah yang di anggap organisasi modern menempatkan PAN hanya mendapatkan segelintir suara.

Apalah jadinya jika partai yang bekonotasi Islam ini masih berjalan pada visi partai tanpa tahu arah tujuan visi Islam sesungguhnya. Belum lagi persoalan yang menekankan pada siapa yang pantas menjadi presiden dan wakil presiden. Dominasi pemimpin karismatik semakin hilang di tubuh partai Islam sebut saja mantan presiden Abdurrahman Wahid. Berbeda dengan partai lain yang masih menempatkan karima Megawati Soekarno Putri di PDI-P dan Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat.

Adakah partai yang benar-benar memperjuangkan suara rakyat. Multipartai yang sekarang ada hanya ueforia atau hanya sekedar meramaikan pesta lima tahun sekali. Akan tetapi keberlanjutan partai terus membawa sederet masalah jika tidak mampu memberikan perubahan yang lebih baik untuk bangsa. Sederet problem yang selama ini menjadi momok permasalahan belum juga tertuntaskan sebagaimana mestinya lihat kasus korupsi yang terus berlanjut, penegakan hukum dan pelangaran hak asasi manusia.

Rakyat hanya bisa berharap semoga saja ada partai yang masih komitmen untuk memperjuangkan nasib mereka. Maka kita harus memandang persoalan terhadap kader Islam sebagai generasi yang unggul, pertama memfokuskan kepada pembinaan kader Islam supaya mereka lebih mengetahui lebih banyak lagi mengenai agamanya sehingga tercipta seorang muslim yang mempunyai hati dan akhlak yang luhur, serta intelektualitas, spiritualitas dan penguasaan teknologi. Kedua, kader Islam dalam memandang partai Islam tidak sebatas melihat dari ideologinya akan tetapi pada kader-kader yang berakhlak, visi dan misi yang berorientasi pada kesejahteraan untuk semua. Ketiga, bersatu kembali mewujudkan cita-cita Islam dengan menyatukan visi untuk kesejahteraan dan kemakmuran, “al-bunyan la taqumu fi yaumin wa lailatin“, Bangunan itu tidak mungkin dibangun hanya dalam sehari semalam.

Demonologi merupakan retorika yang menempatkan Islam menjadi ancaman, tidak heran pada akhirnya tercerai berai karena memiliki berbagai kepentingan. Jika saja umat Islam bersatu pada satu bendera tentu saja akan memiliki kekuatan yang besar dan akan dapat merubah tatanan sesuai dengan visi islam yang semestinya. Namun inilah demokarasi…, bagaimana umat Islam selanjutnya!

Saatnyalah partai yang berlabel Islam menyadari posisinya, kekuasaan bukan segalanya. Namun sandiwara politik kitalah yang menang dengan menempatkan aktor “demokrasi” sebagai pemeran utama, tidak heran jika partai menjadi alat untuk menguasai dan merubah tatanan aturan sistem di Indonesia.

* Pimpinan Redaksi Buletin BERSUARA Semarang dan Warga Teater BETA IAIN Walisongo Semarang

 

PESAN AKHIR KEMATIAN

ben1 

PESAN AKHIR KEMATIAN*

 

 


Prolog :

Semua peserta/pemain berada di panggung menyanyikan lagu ” Anak-anak di jual bersama-sama, yang di irimgi musik.

( semua pemain meninggalkan panggung setelah lagu selesai, kecuali pemeran Bunga yang duduk merenung memandangi bait-bait puisi)

 

Narasi :

Jarak 75 KM dari pusat kota Semarang, nampak terlihat perkampungan dipinggiran hutan karet. Di sinilah Bunga (Nama samaran ) tinggal di sebuah kontrakan sederhana, Bunga tumbuh sebagai remaja putri cantik di kampungnya. Kesehariannya sering menggantikan Ibunya mengerjakan pekerjaan rumah, setelah Ia tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya. Pendidikan Bunga terhenti saat duduk di kelas dua SMP.

 

( Bunga membaca puisi penuh ekpresi kesedian )

Cat : Buat 2 bait puisi tentang perjalanan rumah tangga yang broken home dan hak-haknya yang terabaikan.

 

(Di belakang/ luar panggung terdengar kegaduhan pertengkaran kedua orang tua Bunga yang selalu mempersoalkan kondisi keluarga. Kegaduhan pertengkaran ini, semakin lama semakin dekat dan memasuki panggung . suasana ini diiringi musik)

cat : bikin dialog pertengkaran kedua ortu

 

Dialog :

Ibu : ”Bapak selalu mementingkan urusannya sendiri, dan tak pernah tau istri dan anak !”

Bapak : ”Memangnya Ibu pernah memikirkan masa depan anak kita?” Apa yang Ibu berikan ?” Setiap hari keluyuran tak jelas apa yang dilakukan”.

Ibu : ”Sekarang bisa saja bapak bicara begitu!, Berkacalah…. Setiap hari kerja bapak hanya mabok dan selebihnya main kartu di ujung gang”.

Bapak : ” Ya , memang beginilah keadaan saya, Lantas apa maumu?”

Ibu : ”Saya tidak betah hidup seperti ini. Saya menginginkan kita hidup dengan cara masing-masing”.

Bapak : ”maksudnya?,…. cerai?”

Bunga : ” Cukup !” Saya masih terlalu muda untuk mendengar dan menyaksikan ini. Cukup Bapak…, Cukup Ibu !”

 

( Bunga berlari dengan raut muka sedih dan marah meninggalkan panggung sambil membantik lembaran kertas puisi yang di bawanya)

 

Narator :

Ya…, terkabullah permintaan ibu bunga untuk bercerai dengan suaminya. Akhirnya bapak Bunga pergi meninggalkan rumah kontrakan dan tak pernah memberi kabar sedikitpun. Begitu pula dengan Ibu bunga, 1 bulan setelah sepergian suaminya, Iapun berpamitan kepada Bunga untuk pergi bekerja menjadi TKI, dan berjanji akan selalu mengirim uang tiap bulan untuk kebutuhan Bunga . Namun apa yang dijanjikan Ibunya, ternyata tidak sekalipun Ia mengirimkan kabar . Bunga akhirnya memutuskan meninggalkan kontrakan. Ia memilih hidup bersama sahabatnya yang tinggal tidak jauh dari pusat kota.

 

Dialog :

Surti (nama samaran ) : ”Sebetulnya apa yang kau rasakan tak jauh beda dengan yang aku rasakan Bunga ”.

Bunga : ” Apa yang terjadi denganmu ?”

Suirti : ” Saya tinggal bersama nenek dan ke dua orang tuaku ikut program transmigrasi ke luar jawa”. ”Saya harus mengamen di jalanan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup kami ”.

 

Natrator :

Akhirnya Bunga mau tidak mau harus mengikuti jejak sahabatnya, yaitu dengan cara mengemis/mengamen di jalanan, dari perempatan, kereta, bis kota maupun pusat keramaian. Satu tahun kemudian Bunga dan Surti sering kali di ajak tante Tutik ke rumahnya, kadang diajak jalan-jalan ke tempat –tempat rekreasi. Mereka berkenalan dengan tante Tutik saat mengamen di permpatan. Rupanya tante tutik sering kali sinnggah di tempat mangkal bunga dan Surti.

 

Dialog :

Tante Tutik : ” He ..Apa kalian mau bekerja menjadi pembatu rumah tangga di tempat saudaraku ?” . ”Di sana sambil bekerja juga akan di sekolahkan.

Bunga : ”Apa kami mendapat imbalan uang setelah bekerja ?”

Tante tutik : ” Ya pasti, Satu bulan sekali mendapatkan upah sebesar 500.000 rupiah”.

 

Narator :

Akhirnya tanpa pikir panjang Surti dan Bunga menerima tawaran tante Tutik untuk bekerja menjadi pembatu rumah tangga.. Keesokan harinya mereka menyiapkan beberapa kebutuhannya seperti pakaian dan sdedikit uang tabungan hasil mengamen. Bersama tante Tutik merteka menuju ke salah satu tempat dengan mengendarahi transpotasi jasa travel.

 

Dialog

Tante Tutik : ”Kalian sementara akan aku titipkan di rumah saudaraku”.

Bunga : ”Kenapa tidak langsung ke tempat kerja tante ?”

Tante Tutik : ”Ya Kalian akan langsung kerja, setelah tante mengurus identitas kalian. ”klian kan belum mempunyai KTP ?”

Surti : ”Maksudnya, identitas kami akan dipalsukan ?”

Tante Tutik : ” Ya , betul agar pekerjaan kalian lancar!’ Kalian aku tinggal sementara Nanti saudaraku pasti menjumpai kalian ”.

 

(Bunga dan Surti mengangguk tanda mengerti., Kemudian Tante tutik meninggalkan rungan. Tak lama kemudian datang Seorang wanita (Mami Dina ) yang mengaku saudara tante Tutik.)

Dialog :

Mami Dina : ” He … Apa kalian yang bernama Bunga dan Surti?’

Bunga dan Surti : ” Betul Tante”. Tante ini siapa ya ?”

Mami Dina : ” Jangan panggil aku Tante , Panggil saja aku mami, mami Dina”. Saya kakaknya Tutik yang tinggal di kota ini. ”Saya yang meminta tolong Tutik supaya mencarikan orang untuk membantu pekerjaan rumah”.

 

Narator :

Sesaat setelah cukup istirahat, akhirnya mereka meninggalkan rumah penampung sementara menuju arah barat kota . Sesampainya tujuan Bunga dan Surti sempat terheran-heran, melihat suasana ramai di tengah perkampungan kecil. Selama 1 minggu mereka di perlakukan layaknya pembantu rumah tangga. Sikap ramahpun nampak tercermin oleh mami dina. Tak segan pula mami Dina mengajak shoping Bunga dan Surti untuk sekedar membeli pakaian trendi. Nama Bunga dan Surti perlahan berubah menjadi Shinta dan Shanti. Pekerja mereka perlahan bergeser menjadi pelayan mini bar. Suatu hari Bunga dimintai menemani tamu laganan (eksekutif muda ) yang berkunjung.

 

(Tamu) Rudi : ” Kamu nampak cantik?”… O.ya… Temeni Om ke hotel sebentar ya?” ada sesuatu untukmu

Bunga : ” Memangnya Om mau ngapain?” Biar aku tunggu di sini saja:.

Rudi : ” Tidak apa sebentar saja . Lagi pula Mamimu sudah memberikan izin.

Mami Dina : ” Iya ,….Bunga temanilah om Rudi sebentar, itu bagian dari kerjamu”.

Bunga : ”Baiklah kalau begitu”.

 

Narator :

Mereka akhirnmya meninggalkan tempat dan menuju ke hotel dimana Rudi menginap. Disinilah di kamar hotel , rupanya bunga diperdaya oleh Rudi. Bunga harus menelan rasa getir perih dan tercabik-cabik saat kesuciannya terenggut. Acapkali teriakan rasa sakit seolah memecah seisi ruangan hotel. Hal yang tak jauh berbedapun dialami oleh Surti. Akhirnya mereka tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah terhadap keadaan. Waktu demi waktu terus bergulir, siang berubah menjadi malam. 3 tahun sudah Bunga dan Surti hidup dalam cengkraman penguasa rumah bordil, yang setiap hari harus di paksa menjadi pemuas nafsu para lelaki hidung belang, menjadi pemakai obat-obatan dan minuman keras. Bahkan saat ini surti dan Bunga tidak tinggal bersama lagi. Surti di jual kepada orang asing untuk di jadikan istri kontrak..

 

Dialog :

Bunga : ” Tuhan Kapan kami keluar dari cengkraman lingkaran ini?” Kami sudah tak kuat lagi Tuhan. Apa salah kami ?’ ……Kami hanyalah korban …………….

 

Pelanggan : ”Masih ada tersisa mutiara dari sekian banyak penikmat nafsu saudaraku”

Bunga : ” Siapa tuan ini , apakah belum cukup melihat penderitaan ini”.

Pelanggan : ”Justru kedatangan saya ini, bermaksud mengajak Bunga keluar dari persoalan ini.

Bunga : ” Benarkah tuan mau menolong saya?” Terimakasih tuan-terimakasih tuan”.

 

(Pada saat mereka mau meninggalkan kamar dan bermaksud mengelabuhi mami Dina , tiba-tiba Bunga jatuh pingsan. Mami Dina , Pelanggan dan beberpa teman Bunga. Berusaha mengangkat Bunga memindahkan ke ruangan tak jauh dari tempat Bunga pingsan.)

 

Dialog :

Temen Bunga : ” Mami, Bunga …..badan Bunga panas dan nafasnya tak beraturan”.

Mami : ” Coba kamu keluar lekas cari dokter!”

Pelanggan : ” Mari mbak aku temani cari dokter.’.

 

Narator :

Sementara mereka mencari pertolongan dokter, kondisi Bunga semakin lama-semakin parah , panas dibdanya semakin tinggi dan seolah tiada daya yang tersisa. Tak lama kemudian datanglah seorang dokter bersama pelanggan dan temen Bunga. Dokter langsung menghampiri dan memeriksanya.

 

Dialog :

Dokter : ” Kondisinya cukup serius, Aku sarankan untuk segera dibawa ke rumah sakit ”.

Mami : ”baiklah kalau begitu dok ”.

Temen Bunga : ” Mari Mas kita angkat Bunga ke mobil ”.

 

(Belum sampai ke mobil, Bunga menggerakkan ke dua tangannya dan kemudian siuman. Mereka meletakkan kembali Bunga dan menyandarkan tubuhnya ke bahu pelanggan. Saat itulah sedikit terucap dari bibir mungil Bunga.)

 

Bunga : ” Kehidupan selalu mengalir …….. berliku perjalanan …banyak duri batu menghadang”.

 

(Bunga mengambil secarik kertas dari balik kain bajunya . Saat itulah bunga menghembuskan nafas terakhir. Pelanggan perlahan mengambil selembar kertas bertuliskan bait-bait puisi. Kemudian penuh penghayatan pelanggan membacanya bait puisi tersebut)

 

Cat : Tolong bikin puisi bertemakan perjuangan hidup manusia . bahwa pekerjaan ini sesungguhnya tidak dikehendaki oleh Bunga atau Bunga-bunga yang lain. Tidak sepantasnya anak-anak di eksploitasi .

 

 

Narator :

Bunga adalah sebagian contoh korban kebiadaban ( Tolong lanjutkan narasi ending ini . Bunga mati karena penyakit HIV AIDS yang di deritanya. Sedangkan Surti mengalami cacat mental dan fisik karena korban kekerasan dari swami kontrak. Saat ini Ia tinggal di rumah sakit jiwa.

 

 

 

Naskah ini di ambil dari diskusi kelompok peserta . Dikembangkan oleh Pendamping.

Di perbolehkan untuk merubah atau menyempurnakan.

* Yuli BDN (Aktivis LSM Setara Semarang)